20
Mar

WISATA EKSTRIM DAN WISATA BUDAYA JOGJA

Setelah melewati keramaian dan romantisme jalanan Malioboro pada malam hari, dengan enggan selimut kembali di tarik karena dinginnya AC didalam kamar, namun mata tetap harus di buka untuk mengawali hari ini, dengan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badan ataupun hanya dengan membilas muka saja (mungkin), kaos seragam pun yang dibagikan sewaktu registrasi di kenakan sebagai pakaian dinas dihari ini. Setelah badan bersih minyak wangipun berhamburan di baju yang dikenakan.

Peserta pun bergegas menuju restoran hotel, bermacam menu sudah siap untuk dilahap sebagai pengisi tenaga sampai siang nanti. Namun ya begitulah budaya Indonesia ngaret masih menjadi persoalan bagi kita, walaupun yang lain sudah selesai dengan sarapannya dan siap untuk naik Bus yang sudah disediakan, masih saja harus menunggu orang-orang yang ngaret tadi. Namun tidak kalah serunya peserta yang sudah siap tadi, sambil menunggu yang masih mandi ataupun yang di bangunkan oleh telepon hotel, dengan kegiatan milenialnya ber-selfi ria ataupun berfoto dengan menggunakan dokumentasi yang disediakan dari siklusindonesia.

Dan tak terasa ternyata waktu molor Hingga satu jam dari jadwal yang telah di rencanakan Hingga semua beres dengan santapan sarapan paginya, pukul 08.00 semua peserta naik bersiap dengan dua Bus parwisata yang terdiri dari satu Big Bus dan satu Mikro Bus untuk mengantar kita ketempat destinasi yang akan dikunjungi. Tour leader pun dengan telaten mengaabsen stiap orangnya agar tidak ada yang ketinggalan di hotel karena asik dengan selimutnya. Setelah semua peserta mengacungkan jari tangannya dari absen, TL (tour leader)pun mengawalinya dengan berdoa bersama, serta merta Pak sopir menginjakan kakinya di pedal gas agar bus bisa melaju menuju destinasi awal base camp lava tour.

Sesampainya di base camp lava tour pukul 08.40 agar tidak membuang waktu karena keterlamabatan berangkat dari hotel peserta langsung berkumpul untuk sejenak mendengarkan savety talk dari pihak lava tour demi keselamatan dan keamanan selama berkegiatan. Beres dengan sedikit pemaparan tentang perjalanan dan keadaan kawasan Gunung Merapi pada waktu itu yang dalam keadaan siaga 1, peserta mengawali kegiatan ini dengan do’a bersama dan dilanjutkan dengan konfigurasi drone dimana orang menempati sketsa tulisan KAPM dan mobil sudah membentuk huruf KAI. Selesai dengan konfigurasi semua peserta naik keatas mobil tua wilis dengan pembagian 1 mobil 3 orang penumpang dan 1 sopir/pemandu. Pukul 09.30 Untuk mengawali keberangkatan, tim teknis dari Siklusindonesia membagikan gun smoke kepada para peserta sebagai awal pemberangkatan. Gun smoke nyala mobilpun berhamburan berangkat dari base camp untuk tour merapi.

Diperjalanan peserta terlihat riang gembira dengan konvoi sebanyak 26 mobil jip wilis yang disediakan dalam kegiatan ini, seketika adrenalin peserta pun mulai naik sambil bersorak sorai ketika sang sopir menginjak gas sehingga kecepatan mobil bertambah. Mendengar teriakan keriangan dari para peserta sekejap jalanan seakan menjadi arena balapan liar jip wilis

Bermacam sorakan yang keluar dari para peserta Wuuuhhuuu…. Yeaaaahhh… Woooaaaiiii… tancapppp lagi gas nyaaaa… Namun seketika terdiam sesampainya di Museum Sisa Hartaku. Mungkin merasa sedih, haru dan bercampur aduk persaan dari tiap-tiap peserta karena melihat foto-foto dan barang peninggalan sisa dari keganasan wedus gembel / awan panas dari letusan Gunung Merapai. Sekitar 20 menitan peserta berada disana dengan dikuasai rasa sedih, membayangkan bagaimana pada waktu kejadian itu, orang-orang, hewan ternak berhamburan untuk menyelamatkan diri dari hantaman wedus gembel tersebut. Namun bagi penulis sendiri yang ikut dalam tour itu, merasakan karena bisa mengetahui dari foto-foto dan barang-barang yang menjadi saksi kejadian pahit tersebut. Dan mari kita berdo’a sejenak untuk para korban dari bencana letusan Gunung Merapi di Tahun 2010.

Selepas dari Musem Sisa Hartaku peserta kembali menaiki Jip Wilisnya masing-masing untuk melanjutkan tour-nya menuju ke Batu Alien. Yang menjadi fenomenal “batu itu berbentuk muka manusia dengan dua mata, hidung dan mulut sehingga di sebut batu alien”. Namun yang tidak kalah pentingnya keberadaan batu itu, ada setelah satu hari meninggalnya Alm Mbah Maridjan sang juru kunci Gunung Merapi dimakamkan akibat terkenanya awan panas yang turun dari letusan Gunung Merapi. Dengan biasanya kewajiban orang-orang jaman Now melihat satu Spot, langsung senjata perekam gambarpun keluar dari kantong untuk mengabadikannya. Dan ritual berswa foto pun diakhiri dengan foto bersama didekat batu alien.

Karena memang waktu yang tersedia tidak begitu panjang sehingga keindahan panorama sekitar batu alien pun harus ditinggalkan untuk segera bergegas kembali menaiki Jip nya masing-masing dan melanjutkan ke destinasi akhir dari Tour Merapi ini yakni  Bunker Kali Adem. Tidak salah memang memberikan nama Kali Adem, setelah memasuki fortal selamat datang udara berubah menjadi Suwoooosss Adeeemmmmm. Sejuk udara, segar hembusan angin membuat kita betah setelah mulai dari hotel, base camp lava tour, museum sisa hartaku, batu alien dengan udara yang buat orang bandung terbilang panas, dan disini adeeemmmmm…. Pemandupun sedikit bercerita tentang bunker itu sendiri, yang ternyata pada waktu kejadian letusan Gunung Merapi terdapat korban yang tadinya hendak berlindung. Dengan perbedaan suhu yang menyejukan memang tidak mudah untuk melangkahkan kaki untuk beranjak dari tempat itu, namun kembali lagi sang waktu tidak mengizinkan kita berlama-lama di daerah tersebut karena masih ada rangakaian acara lain yang harus diselesaikan.       

Dengan berat hati para peserta harus mengucapkan say good by kepada bunker Kali Adem dan langsung menaiki Jip Wilisnya yang nanti akan  berganti dengan Bus yang mengantar tadi untuk menuju ketempat makan siang di Restoran Wedang Kopi daerah Candi Plaosan. Pukul 11.30 Dengan “setangkup haru dalam rindu” seperti lirik lagu, peserta pun mulai satu persatu kembali menaiki Bus yang siap mengantar ketempat pengisian perut karena waktunya sudah mulai tiba.

Walaupun 30 menit molor dari waktu yang direncanakan dan akhirnya pukul 12.30 tiba juga di Restoran yang dinanti-nanti. Di tempat ini lah kita akan mengisi kembali perut yang sedari tadi pagi sudah terkuras oleh kegaiatan lava tour. Sekitar 1 jam kurang di tempat ini para peserta Dholan Ning Jogja untuk beristirahat sejanak sambil menikmati sajian makan siang dan melaksanakan ibadah Sholat Dzuhur.

Selepas dari kegiatan ISHOMA-nya pukul 13.30 para peserta kembali menaiki bus nya masing-masing untuk menuju program selanjutnya yaitu jalan-jalan keliling Kampung di sekitar Candi Plaosan dengan menggunakan Sepeda Onthel. Tidak lama mereka berada dalam bus, hanya sekitar 10 menit sudah tiba di base camp Sepeda Onthel. Peserta langsung saja dikumpulkan untuk sedikit pencairan suasana dan pembagian kelompok, karena di program ini peserta akan diajak bermain dengan kebudayaan lokal dengan konsep Amazing Race. Pukul 14.00 setelah semuanya siap diatas sepeda masing-masing pemandupun mengambil posisi terdepan dan menggoes sepedanya yang diikuti para peserta dengan riang dan antusias walau cuaca lumayan terbilang terik.

Pos pertamapun dalam amazing race ini akhirnya di datangi peserta, pos ini adalah Pos Shoot The King. Permainan ini bagi warga sekitar merupakan permainan tradisinoal mereka, media yang digunakan hanya berupa karet gelang dan sebuah kartu remi jenis raja. Permainan ini memang simple, kita berjarak sekitar 2 meter dari kartu raja yang di berdirikan, sementara kita harus menjatuhkannya dengan menembakan karet dijari kita, dan pemenangnya siapa yang mampu menjatuhkan kartu tersebut

Setelah menyambangi pos pertama peserta pun beranjak ke pos ke-2, di pos ini memang lumayan berbeda dengan pos pertama. Pos 2 ini dinamai Pos Gambelan, kental kaitannya dengan budaya lokal. Para peserta diajak bermain gambelan jawa, ada bagian saron, gendang, goong, sinden bahkan penari. Terlihat antusias para peserta di pos ini walaupun terlihat kebingungan dengan notasi yang diberikan pelatih, namun ya namanya juga temen-temen dari PT KAI dan PT KAPM mereka memang gokil dan seru

Tidak jauh berbeda dengan 2 pos sebelumnya, pos ke 3 ini para peserta semakin menggila dengan kegokilannya. Pos ini adalah pos Pring Sedapur dinamakan oleh pemandunya. Karena memang alat musik yang digunakan semuanya terbuat dari pring (bambu). Di pos ini sedikit berbeda dengan pos gamelan karena di pos ini peserta tidak diberikan notasi untuk memainkannya, sehingga peserta bebas memukul alat musik ini asal karuan saja. Namun sekali lagi dengan intuisi kemusikan para pesrta, alat musik ini terdengar ritmik yang berirama tradisi dengan keceriaanya.

Tak sampai di kebudayaan saja para peserta berkesempatan untuk mengunjungi pos berikutnya dengan nama pos Emping Challenge. Di pos 4 ini peserta diajak untuk mengetahui sebuah proses pembuatan Emping Melinjo, bahannya seperti apa? Cara membuatnya seperti apa? Alat yang dipakai seperti apa? Sehingga kalau masuk mulut terasa enak nan crispy. Dan ternyata untuk membuat sebuah makanan yang enak itu gampang-gampang susah, dengan telaten dan keikhlasan maka semuanya akan menjadi baik (pepatah bilang)

Selesai dari Pos tadi selanjutnya peserta beranjak ke pos 5 yang diberi nama “kejarlah daku kau kutangkap” judul yang romantik memang…. Walaupun pada kenyataannya permaianan ini adalah sebuah permainan yang melatih konsentrasi kita. Dengan cara bermain; satu potong kecil  kayu di simpan diatas telapak tangan, lalu telapak tangan diangkat seakan dikayuh ke atas sehingga potongan kayu tersebut terlempar keatas dan kita harus bisa menangkapnya kembali.

Selesai dengan kelima pos tadi diakhir Pos ke 5 ini peserta menikmati sajian makanan kecil alakan khas daerah setempat. Sehingga lengkaplah sudah, mulai dari permainan tradisional, kesenian tradisional, makanan tradisional, juga pengarajin lokal dikunjungi dan yang terpenting dari itu semua mempunyai nilai-nilai esensi positif yang mampu kita pelajari untuk diri kita pribadi.